SEJARAH KODIFIKASI HADIS

Posted: March 9, 2011 in Uncategorized

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam islam kedudukan hadis sebagai sumber ajaran islam menempati posisi kedua setelah al- Qur’an. Bukan saja menjadi penguat dan penjelas al- Qur’an, tetapi juga dijadikan hukum baru yang tidak atau belum dijelaskan oleh al-Qur’an, bahkan ia juga berfungsi untuk menasakh al-Qur’an.
Hadis tidak seperti alqur’an yang yang sifatnya qath’iyyah al wurud (pasti kedatangannya), maka tidak diherankan keberadaannya menjadi sasaran oleh mereka yang tidak senang terhadap islam (misalnya Goldziher, 1850-1921) yang meragukan orisinalitas hadis. Alasannya adalah jarak semenjak wafatnya Nabi Saw dengan dengan masa upaya pentadwinan hadis sangat jauh, menurutnya sangat sulit untuk menjaga tingkat orisinalitas hadis tersebut. Selanjutnya dalam kalangan islam sendiri ditemukan kelompok di Mesia dan Iraq yang dikenal dengan nama inkarus sunnah yang tidak menjadikan hadis sebagai sumber ajaran islam. Hal ini membuat ilmu-ilmu hadis menampak titik urgensi dirinya dalam mempertahankan dan mempertanggungjawabkan otentitas hadis secara ilmiah. Sedangkan untuk dapat mengetahui secara kronologis perkembangan hadis mulai masa Nabi Saw sampai pertengahan abad VII H hingga sekarang, para ahli membaginya dalam beberapa periode perkembangan hadis.

BAB II
PEMBAHASAN
“SEJARAH KODIFIKASI HADIS”

A. Hadis Dalam Periode Pertama (masa Rasulullah).
Periode ini disebut “Ashr Al wahyi wa al Taqwin” ( masa turunnya wahyu dan pembentukan masyarakat islam. Umat islam pada masa ini dapat secara langsung memperoleh hadis dari Rasulullah, semua perkataan, perbuatan dan taqrir nabi menjadi referensi bagi para sahabat. Ada beberapa cara Rasulullah menyampaikan hadis kepada para sahabat, yaitu:
 Melalui para jama’ah melalui para jama’ah pada pusat pembinaan yang disebut majlis al- ilmi.
 Rasulullah Saw menyampaikan hadisnya melalui sahabat tertentu yang kemudian disampaikan kepada orang lain.
 Melalui pidato di tempat terbuka, seperti ketika ketika haji wada’ dan futuh Makkah.
Larangan Menulis Hadis
Pada awalnya Rasulullah melarang para sahabat menulis hadis secara resmi, sehingga para sahabat hanya mengandalkan hafalan. Beliau bersabda:

“Janganlah kau tulis apa saja dariku selain al Qur’an. barang sispa menulis dariku selain al Qur’an hendaknya dihapus.” (HR Muslim).
Menurut para ulama’, pelarangan penulisan hadis disebabkan oleh beberapa faktor:
a. Men-tadwin-kan segala ucapan, amalan, serta muamalah Nabi adalah suatu hal yang sukar, karena memerlukan adanya segolongan sahab at yang terus menerus harus menyertai Nabi untuk menulis segala sesuatu dari Nabi, dan orang yang bisa menulis pada masa itu masih sangat sedikit.
b. Dikhawatirkan akan bercampur dalam sebagian sabda Nabi dengan al Qur’an secara tidak sengaja.
Pembatalan Larangan menulis hadis
Di balik larangan Rasulullah tentang menulis hadis, ternyata ditemukan sejumlah sahabat yang menuliskan hadis secara diam-diam, diantaranya adalah Abdullah ibn Amr Al-Ash, Jabir bin Abdillah ibn Amr Al-Anshari, Abu Huraiorah Ad Dausi dan Abu Syah.
Abdullah ibn Amr Al-Ash memiliki catatan hadis yang menurut pengakuannya dibenarkan oleh rasulullah Saw. Menurut suatu riwayat diceritakan bahwa orang-orang Quraisy mengkritik sikap Abdullah yang selalu mnulis apa saja yang datang dari Rasul. Mereka berkata: “ Engkau tuliskan apa saja yan g datang dari Rasul, padahal Rasul itu manusia yang bisa saja bicara dalam keadaaan marah.” Kritikan ini disampaikan kepada Rasulullah Saw dan beliau menjawabnya dengan mengatakan:
“ Tulislah! Demi Dzat Yang menguasai jiwaku, tidak ada yang keluar dari padaku melainkan yang haq (benar)”. (HR. Bukhari)
B. Hadits Dalam Periode Kedua (Masa Khulafa’ Rasyidin)
Periode ini disebut zaman at Tatsabut wa al Iqlal min al Riwayat ( masa pengokohan dan penyederhanaan riwayat). Pada masa ini para sahabat sangat berhati-hati dalam meriwayatkan dan menerima hadis karena menurut mereka hadis merupakan sumber ajaran islam yang harus terjaga dari kekeliruan sebagaimana al-Qur’an. Diharuskan menghadirkan saksi untuk meriwayatkan suatu hadis.
Cara para sahabat meriwayatkan hadis:
• Periwayatan lafdzi, yaitu periwayatan hadis yang lafadznya persis seperti yang disabdakan nabi.
• Periawayatan maknawi, yaitupara sahabat meriwayatkan makananya saja karena tidak hafal lafaz asli dari Nabi.
C. Hadits Dalam Periode Ketiga (Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in Besar)
Periode ini disebut “Ashr al Intisyar al Riwayah ila al Amshar” (masa berkembang dan meluasnya periwayatan hadis). Sesudah masa Usman dan Ali, timbullah usaha yang lebih serius untuk mencari dan menghafal hadis serta menyebarluaskannya kepada masyarakat luas. Pada masa ini wilayah islam sudaj semakin meluas ke negeri Syam, Iraq, Mesir, Samarkant, hingga Spanyol. Hal ini bersamaan dengan berangkatnya para sahabat ke daerah-daerah tersebut dalam rangka memangku jabatan pemerintahan dan penyebaran ilmu hadis.
Karena meningkatnya periwayatan hadis, muncullah bendaharawan dan lembaga-lembaga hadis di berbagai daerah. Di antara bendaharawan hadis yang banyak menerima, menghafal dan meriwayatkan hadis adalah:
a. Abu Hurairah, meriwayatkan 5374 hadis.
b. Abdullah ibnu Umar, meriwayatkan 2630 hadis.
c. Anas Ibnu Malik, meriwayatkan 2276 hadis.
d. Aisyah, meriwayatkan 2210 hadis.
e. Abdullah bin Abbas, meriwayatkan 1660 hadis.
f. Jabir ibnu Abdullah40, meriwayatkan 1 hadis.
g. Abu Sa’id al khudry, meriwayatkan 1170 hadis.
Pusat-pusat hadis:
a. Madinah
Tokoh-tokohnya adalah Abu Bakar, Umar, Ali, Abu Hurairah, Aisyah, Ibnu Umar, Abu Sa’id al Khudry dan Zaid bin Tsabit, serta para sahabat Tabi’in yang belajar kepada para sahabat di atas.
b. Makkah
Tokoh-tokoh hadisnya adalah Mu’adz dan Ibnu Abbas, dan para tabi’in yang belajar kepada mereka yaitu Mujahid, Ikrimah, Atha’ ibnuAbi Rabah, Abu Az Zubair Muhamad ibnu Muslim.
c. Kufah
Tokoh-tokohnya adalah Ali Abdullah bin Mas’ud, Sa’ad bin al Waqqash, Sa’id bin Zaid Khabbab ibnu al Arat, Salman al-Farisi, Hudzaifah ibnu Yaman, Ammar ibnu Yasir, Abu Musa, Al BAraq, Al Mughirah, Al nu’man, dan lain-lain dengan pemimpin besar hadis di kufah yaitu Abdullah ibnu Mas’ud. Banyak ulama hadis yang belajar kepadanya.
d. Basrah
Tokoh-tokoh hadisnya adalah Anas Ibnu Malik, Utbah, Imran ibn Husain, Abu Barzah dan lain-lain serta para tabi’in yang belajar kepada mereka seperti Abul aliyah, Rafi’ ibn Mihram al Riyahy, Al Hasan Al Bishry, Muhammad ibn Sirrin, Abu Sya’tsa’, Jabir ibn Zaid, Qatadah, Mutarraf ibn Abdillah ibn Syikhir dan Abu Bardah ibn Abu Musa.
e. Syam
Tokoh hadis dari sahabat di Syam ini adalah Mu’adz ibn Jabal, Ubadah ibn Shamit dan Abu Darda, dan pada beliau-beliau itu banyak tabi’in belajar di antaranya Abu idris al Khaulany, Qabishah ibn Dzuaib, Makhul, Raja’ ibn Haiwah.
f. Mesir
Di antara sahabat yang mengembangkan hadis di Mesir adalah Abdullah ibn Amr, Uqbah ibn Amr, Kharijah ibn Hudzaifah, Abdullah ibn Sa’ad, Mahwiyah ibn Juz, Abdullah ibn Harits, Abu Bashrah, Abu Sa’ad al Khair, Mu’adz ibn Anas al Juhary. Tabi’in yang belajar kepada mereka adalah Abu al Khair Martsad al Yaziny dan Yazid ibn abi Habib.
Mulai timbul pemalsuan Hadis
Pada periode ini mulai terdapat pemalsuan hadis. Hal ini dikarenakan fitnah di akhir Khalifah Usman dimana umat islam pecah menjadi 3 bagian yaitu golongan syiah, khawarij, dan golongan jumhur. Masing-masing golongan berusaha membuat hadis palsu untuk mendukung paham yang dianutnya.
D. Hadis pada Periode Keempat (Masa pengumpulan dan Pembukuan Hadis abad II Hijriah)
Pada abad pertama hijriah yaitu pada zaman Rasulullah Saw, Khulafa’ur Rasyidin, sebagian besar dinasti Amawiyah hingga akhir abad pertama Hijriah hadis hadis berpindah dari mulut ke mulut dan para perawi meriwayatkan berdasarkan kekuatan hafalannya. Ketika kekhalifahan dipegang oleh Umar ibn Abdul Aziz (99H), mulailah dilakukan usaha tadwin hadis. Alasan mengapa Umar ibn Abdul Aziz memutuskan hal itu adalah beliau khawatir terhadap hilangnya hadis-hadis dengan gugurnya para ulama hadis di medan perang dan khawatir akan tercampurnya hadis-hadis shahih dengan hadis palsu. Di pihak lain bahwa dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan islam dan berbedanya kemampuan para tabi’in satu sama lain, maka sangat jelas diperlukan adanya usaha kodifikasi ini.
Untuk mewujudkan maksud mulia itu, pada tahun 100 H khalifah meminta gubernur madinah Abu Bakar ibn Muhammad ibn Amr Ibn Hazmin supaya membukukan hadis rasul kepada penghafal wanita terkenal Amrah binti Abd ar Rahman ibn Sa’ad ibn Zuharah ibn Ades dan hadis-hadis yang ada pada al Qosim ibn Muhammad ibn Abu Bakr ash Shiddiq, seoarang fuqaha tujuh madinah. Di samping itu, Umar mengirimkan surat-surat kepada gubernur-gubernur yang ada di bawah kekuasaannya untuk membukukan hadis yang ada pada ulama yang tinggal di wilayah mereka masing-masing.
Adapun para pengumpul pertama hadis yang tercatat dalam sejarah adalah:
a. Di kota Makkah, Ibnu Juraij (80H/669M-150H/767M)
b. Di kota Madinah, Ibnu Ishaq (…H/151M-…H/768M), Ibnu Abi Dzi’bin dan Malik ibn Anas (93H/703M-179H/798M)
c. Di kota Bashrah, Ar-Rabi’ ibn Shabih (…H/…M-160 H/777M),Hammad ibn Salamah (176H) dan Said ibn Abi Arubah (156H/773M)
d. Di Kufah, Sufyan ats-Tsaury(161H)
e. Di Syam, Al-Auza’y(156H)
f. Di Washith, Husyaim al-Wasyithy (104H/772M-188H/804M)
g. Di Yaman, Ma’mar al-Azdy (95H/753M-153H/770M)
h. Di Rey, Jarir adh-Dhabby (110H/728M-188H/804M)
i. Di Khurasan, Ibnu al-Mubarak (118H/735M-181H/797M)
j. Di Mesir, Al-Laits ibn Sa’ad(175H).
Kitab-kitab hadits yang terkenal dalam abad ke dua Hijrah dalam kalangan ahli hadist ialah:
a. Al Muwatha’, susunan imam Malik (95H-179H)
b. Al MAghazi wa al Siyar, susunan Muhammad ibn Ishaq (150H)
c. Al-Jami’, susunan Abd ar Razzaq ash Shan’any (211H)
d. Al Mushannaf, susunan Syu’bah ibn Hallaj (160H)
e. Al Mushannaf, susunan Sufyan ibn Uyainah (198H)
f. Al Mushannaf, susunan al laits ibn sa’ad (175H)
g. Al Mushannaf, susunan al Auza’y (150H)
h. Al Mushannaf, susunan Al Humaidi(219H)
i. Al Maghazi an Nabawiyah, susunan Muhammad ibn WAqid al Aslami (130H-207H)
j. Al Musnad, susunan Abu Hanifah (150H)
k. Al Musnad, susunan Zaid ibn Ali
l. Al Musnad, susunan susunan Imam Asy Syafi’i (204H)
m. Mukhtalif al Hadis, susunan imam Syafi’i.
E. Hadis Pada Periode Kelima (Masa Pentashhihan dan Penyusunan Kaidah-kaidahnya)
Para ahli hadis padaa abad II H tidak memisahkan hadis dari fatwa-fatwa sahabat dan tabi’in, namun pada abad ketiga para ahli hadis memisahkan hadis dari fatwa-fatwa itu. Mereka hanya membukukan hadis-hadis saja. Pada mulanya ulama hanya mengumpulkan hadis yang terdapat di kota mereka masing-masing, hanya sebagaian kecil saja yang pergi ke kota lain untuk kepentingan hadis. Keadaan ini dirubah oleh Bukhari dimana beliau selama 16 tahun menjelajah untuk menyiapkan kitab shahihnya. Pada mulanya para ulama menerima menuliskan hadis dari para perawi dengan tidak menetapkan syarat dan tidak memperhatikan shahih tidaknya. Namub setelah terjadinya pemalsuan hadis dan adanya upay dari orang-orang zindiq untuk mengacaukan hadis, para ulama pun melakukan hal-hal berikut:
1. Membahas keadaaan rawi-rawi dari berbagai segi, baik dari segi keadilan, tempat kediaman, masa, dan lain-lain.
2. Memisahkan hadis-hadis yang shahih dari hadis yang dhaif, yakni dengan mentashhihkan hadis. Dasar-dasar pentashhihannya adalah:
 Pengetahuan yang luas tentang tarikh rijal al hadis (sejarah perawi hadis).
 Perbandingan antara hadis di suatu kota dan di kota lainnya dan juga pengetahuan yang luas tentang mazhab yang dianut oleh perawi-perawi itu, apakah dia seorang khawarij, Mu’tazilah, syi’ah atau yang lainnya.
Langkah-langkah yang diambil untuk memelihara hadis:
 Mengisnadkan hadis
 Memeriksa benar dan tidaknya hadis yang diterima
 Mengkritik perawi dan menerangkan keadaan-keadaan mereka, tentang kebenaran dan kedustaannya. Membuat kaidah umum untuk membedakan derajat-derajat hadis.
 Menetapkan kriteria-kriteria hadis maudhu’.
Tokoh-tokoh Hadis yang lahir dalam masa ini adalah Ali ibn al-Madiny, Abu Hatim ar-Razy, Muhammad ibn Jarir ath-Thabary, Muhammad ibn Sa’ad, Ishaq ibn Rahawaih, Ahmad, Al-Bukhary, Muslim, An-nasa’y, Abu Daud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ibnu Qutaibah, Ad-Dainury.
Kitab-kitab sunnah yang tersusun dalam abad yang ketiga antara lain:
1. Al-Musnad, susunan Musa Ibn’Abdillah Al-‘Abasy
2. Al-Musnad, susunan Musaddad ibn Musarhad
3. Al-Musnad, susunan Asad Ibn Musa
4. Al-Musnad, susunan Abu Daud Ath Thayalisy
5. Al-Musnad, susunan Nu’aim ibn Hammad
6. Al-Musnad, susunan Abu Ya’la Al-Maushuly
7. Al-Musnad, susunan Al-Humaidy
8. Al-Musnad, susunan ‘Ali Al-Madaidi
9. Al-Musnad, susunan ‘Abid Ibn Humaid (249H)
10. Al- Musnadu Al-Mu’allal, susunan Al-Bazzar
11. Al-Musnad, susunan Baqiy Ibn Makhlad (201-296H
12. Al-Musnad, susunan Ibnu Rahawaih (237H)
13. Al-Musnad, susunan Ahmad Ibn Ahmad
14. Al-Musnad, susunan Muhammad Ibn Nashr Al-Marwazy
15. Al-Musnad, susunan Abu Bakr ibn Abi Syaibah (235H)
16. Al-Musnad, susunan Abu Al-Qasim Al-Baghdawy (214H)
17. Al-Musnad, susunan ‘Utsman ibn Muhammad Al-Masarkhasy
18. Al-Musnad, susunan Ad-Darimi
19. Al-Musnad, susunan Sa’id Ibn Mansur
20. Al-Musnad, susunan Sa’id Ibn Mansur (227H)
21. Tahdzibu Al-Atsarm, susunan Al-Imam ibn Jarir
22. Al-Jami’u Ash-Shahih, susunan Bukhari
23. Al-Jami’u Ash-Shahih, susunan Muslim
24. As-Sunan, susunan An-Nasa’i
25. As-Sunan, susunan Abu Dawud
26. As-Sunan, susunan At-Tirmidzi
27. As-Sunan, Susunan Ibnu Majah
28. As-Sunan, susunan Ibnu Al-Jarud
29. Ath-Thabaqat, susunan Ibnu Sa’ad
F. Hadis Pada Periode keenam (dari awal abad IV H – 656 H)
Ulama-ulama hadis yang muncul pada abad II dan III H digelari mutaqaddimin. Mereka mengumpulkan hadis dengan usaha dan pemeriksaan sendiri dengan menemui para penghafl hadis yang tersebar di seluruh pelosok negara Arab, Persia dan lain-lain. Sedangkan ulama-ulama hadis yang muncul pada abad IV H dan seterusnya diberi gelar Muta’akhkhirin. Kebanyakan hadis yang mereka kumpulkan adalah petikan atau nukilan dari kitab-kitab Mutaqddimin. Pada periode ini muncul kitab shahih yang tidak terdapat dalam kitab shahih abad III H diantaranya adalah ash Shahih susunan ibn Huzaimah, At taqsim wa al Anwa’ susunan ibn Hibban, Al Mustadrak susunan Al hakim, Ash Shahih susunan Abu Awanah, Al Muntaqa susunan ibn Jarud dan Al mukhtarah susunan Muhammad ibn Abd al wahid al Maqdisy.
Di antara usaha-usaha yang dilakukan oleh ulama hadis pada abad ini adalah:
1. Mengumpulkan hadis Bukhari/ Muslim dalam sebuah kitab.
2. Mengumpulkan hadis-hadis dalam kitab enam dengan urutan sebagai berikut:
a. Al Jami’ Al Shahih susunan Imam Bukhari
b. Al Jami’ Al Shahih susunan Imam Muslim
c. Al Sunan susunan Abu daud
d. Al Sunan susunan al Tirmidzi
e. Al Sunan susunan al Nasa’i
f. Al Sunan susunan ibn Majah.
3. Mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat dalam berbagai kitab, diantaranya adalah Mashabih As Sunnah oleh Imam husain ibn Mas’ud al Baghawi (516H), Jami’ul Masanid wal Alqab oleh Abdurrahman ibn Ali al jauzy (597 H), Bahrul Asanid al Hafidh Al Hasan ibn Ahmad al Samarqandi (491H).
4. Mengumpulkan hadis-hadis hukum dan menyusun kitab-kitab Athraf.
Pada periode ini muncul usaha-usaha istikhraj dan istidrak. Istikhraj adalah mengambil suatu hadis dari Bukhari dan muslim misalnya, lalu meriwayatkan dengan sanad sendiri. Contoh kitabnya adalah Mustakhraj shahih Al Bukhari oleh hafidh al Jurjany, Mustakhraj shahih Muslim oleh Al hafidh Abu Awanah. Sedangkan istidrak yaitu mengumpulkan hadis-hadis yang memiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau salah satunya yang kebetulan tidak diriwayatkan atau dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim. Contohnya kitab Al mustadrak oleh Abu Dzar al Harawy.

G. Hadis dalam Periode Ketujuh (656H- sekarang)
Periode ini adalah masa sesudah meninggalnya Khalifah Abassiah ke XVII Al Mu’tasim (w. 656) sampai sekarang. Periode ini dinamakan Ahdu as Sarhi wa al jami’ wa At takhriji wa Al Bahtsi (masa pensyarahan, penghimpunan dan pentakhrijan dan pembahasan). Periode ini dinamakan Ahdu al Sarhi wa al Jami’ wa Al Takhriji wa Bahtsi, yaitu masa pensyarahan, penghimpunan, pentahrijan dan pembahasan.
Pada periode ini disusun kitab-kitab Zawa’id, yaitu usaha mengumpulkan hadis yang terdapat dalam kitab sebelumnya ke dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya kitab zawa’id susunan ibn Majah, kitab Zawa’id AS Sunan Al kubra susunan Al Bushiry dan lain-lain. Di samping itu para ulama hadis juga mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat dalam beberapa kitab ke dalam sebuah kitab tertentu di antara adalah kitab Jami’ al Masanid wa As Sunan Al hadi li aqwani sanan, susunan al Hafidz Ibn Katsir dan jami’ul Jawami susunan Al hafidz Al Suyuthi (911H).
Banyak kitab dalam berbagai ilmu yang mengandung hadis-hadis yang tidak disebut perawinya dan pentahrijannya. Sebagian ulama pada masa ini berusaha menerangkan tempat-tempat pengambilan hadis-hadis itu dan nilai-nilainya dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya Takhrij hadis Tafsir al Kasyasyaf oleh ibn hajar al Asqalani, dan lain-lain.
Sebagaimana periode ke enam, periode ke tujuhini juga muncul ulama-ulama hadis yang menyusun kitab-kitab athraf, di antaranya Ithaf al Maharah bi athraf al asyrah oleh Ibn hajar Al Asqalani, Athraf Al Musnad Al mu’tali bi Athraf Al Musnad Al hanbali oleh ibn hajar, dan lain-lain.
Tokoh-tokoh hadis yang terkenal pada masa ini adalah: (1) Adz- Dzahaby (748H), (2) Ibnu Sayyidinnas (734H), (3) Ibnu Daqiq Al-‘Ied, (4) Muglatai (862H), (5) Al-Asqalainy (852H), (6) Ad-Dimyty (705H), (7) Al-‘Ainy (855H), (8) As-Suyuthi (911H), (9) Az-Zarkasy (794H), (10) Al-Mizzy (742H), (11) Al-‘Alay (761H), (12) Ibnu Katsir (774H), (13) Az-Zaily (762H), (14) Inu Rajab (795H), (15) Ibnu Mulaqqin (804H), (16) Al-Bulqiny (805H), (17) Al-‘Iraqy (w.806H), (18) Al-Haitsamy (807H), dan (19) Abu Zurah (826 H).

BAB III
KESIMPULAN

Dalam proses kodifikasinya, sejak zaman Nabi saw sampai sekarang, para ulama hadis membagi sejarah hadis dalam tujuh periode, yaitu:
1. Periode pertama (masa Rasulullah).
2. Periode kedua (masa Khulafa’ Rasyidin- masa membatasi riwayat)
3. Periode ketiga (masa sahabat kecil dan tabi’in besar)
4. Periode keempat (masa pengumpulan dan pembukuan hadis)
5. Periode kelima (masa pentashhihan dan penyusunan kaidah-kaidahnya)
6. Periode keenam (dari awal abad IV- 656H)
7. Peride ketujuh ( 656H- sekarang)

BIBLIOGRAFI

Al- Maliki, Muhammad Alawi. Terj. Adnan Qohar.2009. Ilmu Ushul
Hadis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ash Shiddieqi, Muhammad Hasbi. 2009. Sejarah & Pengantar Ilmu
Hadis. Semarang Pustaka Rizki
Rachman, Fachtur. 1974. Ikhtisar Mushthalahul Hadits. Bandung :
Al-Ma’arif
Shalih, Al-Shubhi. 1977. ‘Ulum al Hadits wa Mushthalahuhu. Beirut:
Dar Al- Ulum Al- Malayin
Solahudin, M. Agus dan Agus Suyadi. 2009. Ulumul Hadis. Bandung
Pustaka Setia
Suparta, Munzier. 2008. Ilmu Hadis. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Usmani, Justice Muhammad Taqi. 1784. The Authority of Sunnah. New Delhi:
Kitab Bhavan
Zein, Muhammad Ma’shum. 2008. Ulumul Hadis dan Musthalah Hadis.
Jombang: Darul Hikmah

BAB I
PENDAHULUAN

Alī bin Abī Thālib (Arab: علي بن أﺑﻲ طالب, Persia: علی پسر ابو طالب)‎ (599 – 661) adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad. Menurut Islam Sunni, ia adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin. Sedangkan Syi’ah berpendapat bahwa ia adalah Imam sekaligus Khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Sudah dimaklumi bahwa satu peristiwa pasti berkaitan dengan peristiwa yang lain, hal itu biasa disebut dengan kausalitas. Begitu juga dengan peristiwa yang menyangkut dengan pemerintahan Ali bin Abi Thalib, besar hubungannya dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada pemerintahan Utsman bin Affan. Peristiwa terbunuhnya Utsman di tangan rombongan penentang menyisakan banyak teka-teki sejarah yang tak kunjung memuaskan. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya berbagai konflik pada masa kekhalifahan selanjutnya yaitu kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib.
Di dalam makalah ini kami akan membahas tentang siapa Ali ibn Abi Thalib, bagaimana proses pembai’atan Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah, bagaimana politik Ali dalam pemerintahannya, konflik yang terjadi pada masa kekhalifahan Ali (tentang peperangan Jamal dan peperangan shiffin) dan bagaimana akhir hayat khalifah Ali Ibn Abi Thalib.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Tentang Ali Ibn Abi Thalib
Ali dilahirkan di Mekkah, daerah Hejaz, Jazirah Arab, pada tanggal 13 Rajab. Menurut sejarawan, Ali dilahirkan 10 tahun sebelum dimulainya kenabian Muhammad, sekitar tahun 599 Masehi atau 600(perkiraan). Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dilahirkan di dalam Ka’bah. Ali dilahirkan dari ibu yang bernama Fatimah binti Asad, dimana Asad merupakan anak dari Hasyim, sehingga menjadikan Ali, merupakan keturunan Hasyim dari sisi bapak dan ibu. Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi hiburan bagi Nabi SAW karena beliau tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqir nya keluarga Abu Thalib memberi kesempatan bagi Nabi SAW bersama istri beliau Khadijah untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh Nabi sejak beliau kecil hingga dewasa, sehingga sedari kecil Ali sudah bersama dengan Muhammad.
Ali adalah orang yang pertama menyatakan imannya dari kalangan anak-anak. Ketika Nabi menerima wahyu yang pertama , menurut Mahmudun Nasir Ali berusia 9 tahun sedangkan menurut Hassan Ibrahim Ali berusia 13 tahun.
Semenjak kecil Ali dididik dengan adab dan budi pekerti islam, lidahnya amat fasih berbicara dan memiliki pengetahuan yang luas tentang islam. Didikan langsung dari Nabi kepada Ali dalam semua aspek ilmu Islam baik aspek zhahir (exterior)atau syariah dan bathin (interior) atau tasawuf menggembleng Ali menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak. Karena sangat dekatnya dengan rasulullah, termasuk orang yang paling banyak meriwayatkan hadis Nabi. Ali terkenal dengan keberaniannya, dia selalu ikut dan berada di barisan muka dalam setiap peperangan-peperangan yang dipimpin rasulullah. Menurut A. Syalabi keberanian Ali dan banyaknya darah manusia yang ditumpahkannya dalam membela agama islam dari orang-orang yang menyerangnya, menyebabkan dirinya banyak memiliki musuh.

B. Pembai’atan Ali ibn Abi Thalib
Beberapa hari setelah pembunuhan Utsman stabilitas keamanan di Madinah menjadi rawan. Gafiqy ibn Harb memegang keamanan ibukota islam ibu kota islam itu selama kira-kira lima hari sampai terpilihnya khalifah yang baru. Kemudian Ali ibn Abi Thalib tampil menggantikan Usman dengan menerima bai’at dari sejumlah kaum Muslimin. Yang pertama kali membai’at Ali adalah Thalhah ibn Ubaidillah dan Zubair ibn Awwam kemudian diikuti oleh banyak orang, baik dari kalangan anshar maupun Muhajirin. Menurut Syalabi tidak ada sahabat-sahabat terkemuka yang dapat menolak untuk membai’at Ali, karena tidak seoarang pun di antara mereka yang sanggup menghadapi pancaroba.Oleh karena itu mau tak mau mereka membai’ah Ali.
Menarik untuk dibahas, meskipun pembai’atan Ali berjalan mulus dan lancar, akan tetapi ada beberapa kelompok dari kalangan kaum muslimin saat itu dalam menyikapi kekhalifan Ali bin Abi Thalib.
Pertama, kelompok yang melarikan diri dari Madinah menuju Syam segera setelah terbunuhnya Utsman dan menghindari ikut campur dalam pembai’atan pengangkatan Khalifah. Mereka adalah anak cucu Bani Umayyah dan para pendukung setianya. Di antaranya adalah tokoh dari Bani Umayah adalah Marwan bin al-Hakam dan al-Walid bin Uqbah. Sementara dari tokoh-tokoh pendukung setianya yang ikut melarikan diri ke Syam adalah Qudamah bin Madh’un, Abdullah bin Sallam, Mughirah bin Syu’bah dan Nu’man bin Basyir.
Kedua, Kelompok yang menangguhkan pembai’atan terahadap Ali dan menyatakan menunggu perkembangan situasi. Diantaranya adalah Sa’ad bin Abi Waqqas, Abdullah bin Tsabit, Muhammad bin Salamah, Usamah bin Zaid, dan Salamah bin Salamah bin Raqis.
Ketiga, kelompok yang sengaja tidak mau memberikan bai’at kesetiannya kepada Ali bin Abi Thalib meskipun mereka tetap berada di Madinah saat pembaiatan Ali. Diantaranya adalah Hasan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, Zaid bin Tsabit, Rafi’ Khadij, Abu Sa’id al-Khudry, Muhammad bin Maslamah, dan Maslamah bin Mukhallad. Mereka disebut-sebut sebagai kelompok yang sangat loyal terhadap Utsman bin Affan.
Keempat, kelompok sahabat penduduk Madinah yang menunaikan ibadah haji pada tahun itu dan belum pulang saat terjadi pembai’atan. Setelah terjadi pembai’atan, sebagian kecil mereka tidak pulang ke Madinah melainkan menunggu perkembangan situasi dari Mekkah. Termasuk di antara mereka adalah Aisyah radiyallahu ‘anhaa.
C. Politik Ali dalam Pemerintahan
Setelah dilantik menjadi khalifah, Ali bin Abi Thalib menyampaikan pidato politik untuk pertama kalinya. Pidatonya tersebut secara umum menggambarkan garis besar dari visi politiknya. Menurut Jeje Zainudin, sedikitnya ada lima visi politik Ali dari pidatonya itu. Pertama, sumber hukum dan dasar keputusan politik yang akan dilaksanakan oleh Ali adalah kitab suci al-Quran. Ini tidak berarti bahwa Ali akan mengabaikan al-Sunnah, sebab al-Quran hanya dapat dilaksanakan secara tepat jika ia dibimbing oleh Sunnah Nabi saw, dan Ali tentulah orang yang paling memahami persoalan ini. Kedua, mewujudkan nilai-nilai kebaikan ideal al-Quran dan menolak segala keburukan dalam masyarakat. Ketiga, tulus ikhlas dalam memimpin dan mengutamakan integrasi kaum muslimin. Keempat, melindungi kehormatan jiwa dan harta benda rakyat dari segala gangguan kezaliman lidah dan tangan. Kelima, membangun kehidupan masyarakat yang bertanggungjawab terhadap bangsa dan Negara dengan landasan ketaatan kepada Allah swt.
Menurut A. Syalabi, politik yang dijalankan seseorang merupakan gambaran dari pribadi orang tersebut yang akan mencerminkan akhlak dan budi pekertinya. Ali adalah orang yang suka berterus terang, tegas bertindak, tidak suka berminyak air, dan tidak takut celaan siapapun dalam menjalankan kebenaran. Karena kepribadian yang dimilkinya itu maka setelah dibai’at Ali mengeluarkan dua buah ketetapan, yaitu:
1. Memecat kepala-kepala daerah angkatan Usman dan menggantinya dengan yang baru.
2. Mengambil kembali tanah-tanah yang dibagikan Usman kepada famil famili dan kaum kerabatnya tanpa jalan yang sah, demikian juga hibah Usman kepada siapapun yang tanpa alasan.
D. Peperangan Jamal
Disebut perang jamal (perang onta) karena Aisyah ikut dalam peperangan ini dengan mengendarai onta.
Ketika Aisyah telah menunaikan umrah dan akan kembali ke Madinah, dia menangguhkan kepulangannya setelah mendengar berita kematian khalifah Utsman. Terlebih Aisyah mendapatkan kabar bahwa Ali telah dibaiat menjadi khalifah pengganti Utsman. Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam yang saat itu berada di Madinah, meminta izin kepada Ali bin Abi Thalib untuk pergi ke Makkah dalam rangka menunaikan umrah. Telah disampaikan bahwa Thalha dan Zubair adalah orang yang pertama kali memba’iat Ali. Namun, setelah tiba di Makkah dan bertemu dengan Aisyah, kedua sahabat itu akhirnya sepakat untuk sama-sama menuntut Ali agar mengusut dan menghukum para pembunuh Utsman.
Oposisi terhadap khalifah Ali secara terang-terangan mulai dilakukan, yaitu oleh Aisyah, Thalhah dan Zubair. Mereka sepakat menuntut khalifah segera menghukum para pembunuh Ustman. Merea berangka menuju Basrah dan mengharapkn dukungan dari penduduk kota itu. Tuntutan yang sama juga diajukan oleh Muawiyah, bahkan ia memanfaatkan peristiwa berdarah itu untuk menjatuhkan legalitas kekuasaan Ali dengan membangkitkan amarah rakyat dan menuduh Ali sebagai pembunuh Utsman jika Ali tidak dapat menemukan dan menghukum pembunuh yang sesungguhnya.
Tuntutan mereka tidak dikabulkan oleh Ali, sehingga kontak senjata tidak bisa dihindari. Pertempuran dalam peperangan Jamal ini terjadi amat sengitnya, sehingga Zubair dan Thalhah melarikan diri, tetapi akhirnya tewas juga. Peperangan ini berhenti ketika Unta yang ditunggangi Aisyah terbunuh. Kemenangan berada di pihak Ali. Tetapi aisyah tidak diusik-usik oleh Ali, justru Aisyah dihormati dan dikembalikan ke Makkah dengan penuh kehormatan dan kemuliaan. Perang Jamal ini telah memakan korban sebanyak 10.000 orang , ada juga yang mengatakan 20.000 orang.
Namun apakah alasan Thalhah, Zubair dan ‘Aisyah menentang Ali hanya semata-mata karena menuntut ditangkapnya pembunuh Utsman? Sebenarnya mereka memiliki alasan yang lebih pokok lagi, yaitu:
 Sebagian sejarawan mengemukakan bahwa penentangan Aisyah terhadap Ali disebabkan oleh sentimen pribadi, misalnya Syalabi yang menyatakan “Sejak dari dahulu telah ada ketegangan antara Ali dan Aisyah. Asiyah sendiri pernah berkata; sebenarnya demi Allah antara Ali dan saya tak ubahnya sebagai orang dengan mertuanya. Mungkin, ketegangan ini disebabkan oleh pendirian Ali memberatkan Aisyah dalam peristiwa hadits al-Ifki.” Dalam masalah hadits al-Ifki, ketika dimintai nasihat (pendapat) oleh Rasul tentang kejadian itu, Ali mengatakan; “Wahai Rasulullah, tidaklah Allah akan menyusahkanmu sedang wanita selain dia masih banyak. Dan tanyakanlah kepada Barirah mungkin ia dapat memberi keterangan yang jujur kepadamu”. Jawaban Ali kepada Rasulullah ini nampaknya melukai perasaan Aisyah. Seakan-akan Ali menyetujui isu yang sedang beredar ditengah masyarakat bahwa Aisyah telah meyeleweng dari Rasulullah saw. Atau paling tidak Ali tidak menunjukkan pembelaannya kepada Aisyah disaat mana posisinya benar-benar tertekan dengan berita fitnah.
Sedangkan menurut pandangan Ali, alasan Aisyah dendam kepadanya adalah:
 Rasul lebih memilih dan mempromosikan Ali daripada ayah Aisyah.
 Ali sangat disukai dan dipuji oleh Nabi Saw.
 Aisyah tidak suka pada Khadijah dan Fatimah.
 Nabi hanya mengizinkan pintu rumah Ali saja yang boleh mengarah dan langsung terhubung menuju masjid, sedangkan pintu sahabat lainnya tidak dibolehkan.
 Nabi Saw pernah pertama-tama menugaskan Abu bakar untuk melakukann sesuatu namun gagal, kemudian ali mengambil alih tugas itu.
 Abdullah bin Zubair mempunyai ambisi besar untuk menduduki kursi khalifah. Tetapi keinginannya itu terhalang oleh Ali. Maka dihasutnyalah bibinya, Aisyah, untuk menceburkan diri ke dalam peperangan melawan Ali.
 Dalam Ensiklopedi islam dikutip sebuah pendapat yang menyebut bahwa pemberontakan itu dilatarbelakangi oleh keinginan Thalhah dan Zubair untuk merebut jabatan khalifah. Kedua sahabat itu, menurut penulis Ensiklopedi Islam, masing-masing mengharapkan rakyat memilihnya menjadi khalifah.
E. Peperangan Shiffin
Perang Shiffin yang terjadi pada tahun 37 Hijriah (656 Masehi), antara Ali Ibn abi Thalib dan Gubernur Suriah, Mu’awiah ibn Abi Sufyan, dilatarbelakangi peristiwa kematian Khalifah Utsman ibn Affan, begitulah sejarah mencatat, namun belakangan diketahui bahwa penyebab utama sebenarnya hanyalah karena Mu’awiyah yang telah lama menjadi Gubernur Suriah yang otonom sejak diangkat Khalifah ‘Umar, tidak mau kehilangan jabatannya itu dengan membaiat kepada Ali ibn Abi Thalib. Ia hendak mempertahankan keutuhan wewenang teritorialnya dengan mengeksploitasi pembunuhan Khalifah ‘Utsman.
Walaupun Ali menyadari sejak semula bahwa peperangan tidak akan terelakkan, ia masih terus berusaha menyadarkan Mu’awiyah. Pada bulan syawal 36 H, setelah kembali ke Kufah dari Perang Jamal, Ali mengutus Jurair ibn AbduIlah al-Bajali ke Mu’awiah di Damsyik dengan membawa sepucuk surat dimana ia mengatakan bahwa kaum Muhajirin dan Anshar telah membaiatnya dan Mu’awiah pun harus membaiat kepadanya dahulu baru kemudian mengajukan kasus pembunuhan Utsman kepadanya supaya khalifah dapat menjatuhkan keputusan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunah. Tetapi Mu’awiah menahan Jurair. Atas saran saudaranya Utbah ibn Abi Sufyan, Mu’awiyah memanggil Amr ibn Ash, seorang politikus yang terkenal licik dan pintar, untuk merundingkan masalah itu. Dengan bantuan orang-orang penting di Suriah ia meyakinkan rakyat yang tidak mengetahui persoalan, bahwa tanggung jawab pembunuhan Utsman terpikul pada Ali, dan bahwa Ali melindungi para pengepung Utsman.
Muawiyah menggantungkan baju Utsman yang berlumur darah serta potongan jari-jari istrinya Na’ilah binti al-Farafishah di mimbar masjid Damsyik di mana sekitar 70.000 orang Suriah berikrar untuk membalaskan dendam atas darah Utsman. Setelah berhasil membangkitkan emosi rakyat Suriah pasukan Muawiyah siap untuk berperang. Muawiyah memperlihatkan semua hal itu kepada Jurair lalu mengirimkan Jurair kembali ke Kufah.
Ketika mendengar tentang hal ini dari Jurair, pada bulan Zulhijah 36H/ 657 mAli mengerahkan pasukan gabungan menyusuri sungai euphrate ke arah utara dengan tujuan Syiria utara, dengan kekuatan 95.000 orang dengan strategi bahwa jika benteng-benteng di wilayah Syiria utara dapat direbut maka gerakan ke arah selatan akan menjadi lebih mudah. Ternyata Muawiyah dengan jumlah pasukan sebanyak 85.000 orang telah lebih dahulu mempertahankan wilayah Syiria utara dan membuat garis pertahanan di dataran Shiffin. Kemudian Ali mengirim pasukan di bawah pimpinan Asytar al Nakhi dan berhasil merebut arus sungai Euphrate. Walaupun Sungai euphrate telah dikuasai Ali, Ali tetap mengizinkan Muawiyah untuk memenuhi kebutuhan air pasukannya.
Upaya untuk menempuh jalan damai terus dilakukan oleh pihak Ali dengan engadakan perundingan. Hingga menginjak bulan Muharam 37 H/658 M perundingan itu belum mencapai persetujuan. Persetujuan satu-satunya untuk sementara adalah masing-masing pihak akan memberikan jawaban akhir pada akhir bulan Muharam.
Pada akhir bulan Muharam tahun 37 H/658 M, jawaban terakhir dari Mu’awiyah adalah tetap menolak untuk membaiat ali dan sebaliknya, menuntut ali dan para pengikutnya untuk membaiat dirinya. Maka pecahlah pertempuran di Shiffin bulan Shafar 37H. Peperangan berlangsung selama beberapa hari dan telah memakan ribuan korban, dimana jumlah korban dari pasukan Muawiyah lebih besar. Dalam keadaan yang sangat terdesak itu, Amr ibn Ash yang terkenal cerdik mengusulkan ide dan disetujui oleh muawiyah agar pasukan yang membawa mushaf mengangkat mushafnya di ujung tombak sebagai tanda damai dengan cara tahkim.
Akhirnya kedua golongan bersepakat bahwa masing-masing pihak memilih seorang hakim. Pihak Muawiyah memilih Amr bin Ash dan pihak Ali memilih Abu Musa al- Asyari. Hasil perundingan mereka adalah masing-masing pihak menurunkan pemimpin mereka sebagai khalifah. Abu Musa yang pertama kali menurunkan Ali sebagai khalifah. Akan tetapi, Amr ibn Ash berlaku sebaliknya, tidak menurunkan Mu’awiyah tetapi justru mengangkat Muawiyah sebagai khalifah.
Peperangan Shiffin yang diakhiri melalui tahkim ini, ternyata tidak menyelesaikan masalah, namun justru membuat Gubernur Syiria itu mempunyai kedudukan setingkat khalifah dan menyebabkan lahirnya golongan khawarij yaitu orang-orang yang keluar dari barisan pendukung Ali yang berjumlah sekitar 12.000 orang. Khawarij yang bermarkas di Nahrawan benar-benar merepotkan khalifah Ali, hingga pecahlah pertempuran nahrawan antara pasukan Ali dengan orang-orang khawarij. Banyak sekali korban dari pasukan Ali yang jatuh dalam pertempuran ini. Hal ini membuat tentara Ali lemah sehingga member kesempatan kepada Muawiyah untuk memperkuat dan memperluas kekuasaan hingga wilayah Mesir mampu direbut dari tangan Ali, yang berarti bahwa Muawiyah telah berhasil merampas sumber-sumber kemakmuran dan suplai ekinomi dari pihak Ali. Karena kekuatannya telah banyak menurun terpaksa khalifah Ali menyetujui perjanjian damai dengan Muawiyah yang secara politis berarti Ali mengakui keabsahan kepemilikan Muawiyah atas Syiria dan Mesir.
F. Akhir Riwayat Ali Ibn Abi Thalib
Pada saat Ali akan bersiap-siap mengirim pasukan sekali lagi untuk memerangi Muawiyah, muncul suatu komplotan yang terdiri dari tiga orang khawarij. Ketiga orang ini sepakat untuk membunuh Ali bin abi Thalib, Muawiyah, dan Amr bin ash pada malam yang sama. Mereka adalah Abdullah ibn Muljam yang berangkat ke Kufah untuk membunuh Ali, Barak Ibn Abdillah at Tamimi berangkat ke Syam untuk membunuh Muawiyah dan Amr ibn Bakr at Tamimi yang berangkat ke Mesir untuk membunuh amr ibn Ash.
Di antara ketiga orang itu, yang berhasil hanyalah Abdullah ibn Muljam yaitu berhasil membunuh Ali ketika Ali memanggil orang untuk sembahyang di masjid. Maka pada tahun 661M berakhirlah kehidupan Ali ibn abi Thalib di tangan seorang khawarij,Abdullah ibn Muljam. Ali meninggal di usia 63 tahun. Khalifah Ali memerintah selama 4 tahun 9 bulan.

BAB III
KESIMPULAN

Jika dilihat dari pembahasan di atas, maka pada masa kekhalifahan Ali ibn Abi Thalib yang terlihat hanyalah kekacauan dan peperangan. Penentangan-penentangan telah dihadapi Ali sejak awal-awal pemerintahannya. Bahkan di masa kekhalifahan Ali inilah mulai terjadi peperangan sesama kaum muslimin, seperti Perang Jamal dan Perang Shiffin. Berbagai langkah dan kebijakan yang telah dilakukan Ali dalam rangka menjalankan roda pemerintahannya, merupakan ijtihad politik yang sangat cemerlang. Meskipun pada akhirnya, kebijakan tersebut banyak memakan korban.
Konflik yang terjadi diantara sahabat nabi merupakan sunnatullah yang bisa terjadi kepada siapa pun, dimana pun dan kapan pun. Semua itu, merupakan pelajaran berharga bagi umat Islam di kemudian hari. Jika sahabat saja, yang oleh al-Quran disebut khair al-Ummah, bisa mengalami konflik, apalagi kita. Namun bagaimana pun sebisa mungkin seharusnya kita dapat belajar dari sejarah dan menyikapinya secara positif agar tidak menimpa kita.

BIBLIOGRAFI

Aen, Nurul. 2008. Sejarah Peradaban Islam. Bandung : Pustaka setia
Al- Maududu, Abul A’la. 1993. Khilafah dan Kerajaan (terj). Bandung: Mizan
Amin, Samsul Munir. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah
Hitti, Philip K. 1970. History of the Arabs. New York: The Mac Millan press
Hodgson, Marshall GS. 2002. The Venture of Islam Conscience and History in a
World Civilization (terj). Jakarta: Paramadina
Hosain, Saiyid Safdar. 1995. The Early History of Islam. New Delhi: Low Price
Publication.
Ja’farian, Rasul. 2003. Sejarah Islam Sejak Wafat Nabi Saw Hingga Runtuhnya
Dinasti Bani Umayyah (11-132H) terj. Jakarta: Lentera Basritama.
Mufrodi, ali. 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Ciputat: Logos Wacana
Ilmu
Nasir, Mahmudun. 1994. ISLAM Concepts and History. New Delhi: Kitab bavan
Sou’yb, Joeseof. 1979. Sejarah Daulah Khulafatur Rasyidin. Jakarta: Bulan
Bintang
Syalabi, Ahmad. 2007. Sejarah Kebudayaan Islam (terj). Jakarta: Pustaka alHusna
Baru
Yatim, Badri. 2008. Sejarah Peradaban Islam (Dirasah Islamiyah II). Jakarta:
Raja Grafindo Persada

BAB I
PENDAHULUAN

Di dunia ini terdapat beberapa kelompok peradaban besar, dua di antaranya adalah peradaban islam dan peradaban barat dimana masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Peradaban barat berpusat di kawasan Eropa barat, Eropa Tengah, serta Negara-negara yang sejarahnya dipengaruhi oleh imigrasi bangsa eropa seperti Negara-negara di benua Amerika dan Australia. Sedangkan peradaban islam berpusat di Negara-negara kawasan Timur Tengah.
Baik peradaban barat maupun peradaban islam masing-masing telah menyumbangkan tokoh-tokoh besar yang memiliki pengaruh besar kepada masyarakat. Dalam studi sosiologi, peradaban (civilization) adalah masyarakat yang mapan (a well-established) dan kompleks (complex society) yang mencakup segi-segi kehidupan politik, administrasi, pendidikan, ilmu pengetahuan, budaya, agama, hukum, dan sebagainya.
Dalam makalah ini kami akan membahas tentang peradaban barat dan peradaban islam, sejarah perkembangannya, komparasi antar keduanya serta kelebihan dan kekurangannya.
BAB II
PEMBAHASAN

A. PERADABAN BARAT
Konsep peradaban barat umumnya terkait dengan definisi klasik dari Dunia Barat. Dalam definisi ini, peradaban barat adalah himpunan sastra, sains, politik, serta prinsip-prinsip artistik dan filosofi yang membedakannya dari peradaban lain. Sebagian besar rangkaian tradisi dan pengetahuan tersebut umumnya telah dikumpulkan dalam kanon Barat. Istilah peradaban barat secara global digunakan untuk merujuk pada warisan norma-norma sosial, nilai-nilai etika, adat istiadat, keyakinan agama, sistem politik, artefak budaya khusus, serta teknologi. Secara spesifik, istilah peradaban barat dapat ditujukan terhadap:
• Pengaruh budaya Klasik dan Renaisans Yunani-Romawi dalam hal seni, filsafat, sastra, dan tema hukum dan tradisi, dampak sosial budaya dari periode migrasi dan warisan budaya Keltik, Jermanik, Romanik, Slavik, dan kelompok etnis lainnya, serta dalam hal tradisi rasionalisme dalam berbagai bidang kehidupan yang dikembangkan oleh filosofi Helenistik, skolastisisme, humanisme, revolusi ilmiah dan pencerahan, dan termasuk pula pemikiran politik, argumen rasional umum yang mendukung kebebasan berpikir, hak asasi manusia, kesetaraan dan nilai-nilai demokrasi yang menentang irasionalitas dan teokrasi.
• Pengaruh budaya Alkitab-Kristiani dalam hal pemikiran rohani, adat dan dalam tradisi etika atau moral, selama masa Pasca Klasik.
• Pengaruh budaya Eropa Barat dalam hal seni, musik, cerita rakyat, etika dan tradisi lisan, dengan tema-tema yang dikembangkan lebih lanjut selama masa Romantisisme.
 Sejarah Perkembangan Peradaban Barat
Konsep tentang “barat” muncul dari warisan Kekaisaran Romawi. Pada hakikatnya kebudayaan romawi adalah lanjutan kebudayaan Yunani.
1. Era Klasik
Era Klasik dadalah pada masa Greeco-Romawi yaitu masa kekusaan Yunani yang selanjutnya dilanjutkan oleh kekaisaran Romawi yang mengalami puncak kejayaan pada masa raja Justianus, karena pada hakikatnya kebudayaan romawi adalah lanjutan kebudayaan Yunani. Jurji Zaijan membagi kebudayaan Yunanii menjadi tujuh zaman, yaitu:
a. Masa mitologi, yaitu zaman Yunani Purba dimana seluruh kebudayaannya penuh dengan dongeng dan khurafat.
b. Masa Heroik (900-700 SM), yaitu zaman dimana hasil-hasil kebudayaan menggambarkan semangat kepahlawanan. Karya yang terkenal adalah kumpulan syair bernama Ilias dan Odyssa ciptaan Homerus yang melukiskan kisah perang.
c. Masa Lyric (Perasaan) (700-500 SM), yaitu masa kolonisasi Yunani di daerah Timur Tengah dan Afrika Utara dan masa berkuasanya para tiran sehingga banyak tercipta sajak-sajak lyric.
d. Masa Keemasan (500-323 SM). Pada masa ini muncul sajak-sajak dramatik, filsafat, khitabah dan sejarah.
e. Masa Iskandary (323-146). Pada masa ini pusat kebudayaan pindah dari Athena ke Iskandariyah (Alexandria), sehingga Iskandariyah menjadi pusat segala kegiatan ilmu, filsafat dan sebagainya.
f. Masa Yunani Romawi (142 SM-550 M), pada masa ini daerah kekuasaan Yunani telah jatuh dalam kekuasaan kerajaan Romawi. Maka mundurlah kebudayaan Yunani, akan tetapi orang-orang kristen telah memperbarui, mengubah dan sebagainya.
g. Masa Bizantium, yaitu zaman kegemilangan pusat romawi Timur (Konstatinopel), dimana menjadi pusat kebudayaan dan peradaban Yunani.
2. Abad Pertengahan
Setelah jatuhnya Romawi, pada abad ke 10 M telah ditemukan kembali kode justian, sehingga dapat menyalakan kembali semangat untuk disiplin hukum bahwa hukum romawi menjadi dasar dari semua konsep hukum. Hukum-hukum itu antara lain tentang hak-hak sipil , kesetaraan di hadapan hukum , kesetaraan perempuan , keadilan prosedural , demokrasi sebagai bentuk ideal masyarakat , dan prinsip-prinsip yang membentuk dasar budaya Barat modern serta penyatuan hukum Romawi dengan sistem hukum gereja Katolik.
Peradaban Barat di abad pertengahan dalam berbagai bidang:
 Bidang Agama, Seni dan Sastra
Mungkin supranasional pemerintah paling efektif selama lima abad setelah jatuhnya kekaisaran barat adalah Gereja Katolik. Paus berusaha untuk menunjuk para uskup, mengatur doktrin, mengirim misionaris, dan berusaha memaksakan sebuah pemerintahan terpusat berdasarkan Kekaisaran Romawi kuno raja-raja. Jermanik, seperti Clovis kaum Frank, agama Kristen sebagai alat buttressing monastisisme otoritas mereka sendiri.
Hingga 1000 M, kristen tetap mendominasi Eropa, namun sebagian besar penyelidikan teologis hanya dibatasi untuk naskah-naskah kuno yang berkaitan dengan pertanyaan teologis yang penting. Berbagai upaya dilakukan untuk menggabungkan pemikiran logis dalam penyelidikan teologis. Rasionalisme dalam teologi menyebabkan tumbuhnya universitas barat dalam rangka peningkatan kualitas di bidang ilmu pengetahuan, bahkan barat juga mengimpor ilmu dari dunia Islam dengan menterjemahkan teks bahasa Arab ke dalam bahasa Latin.
Pada abad ke 14 muncul gerakan renaissance yang berarti gerakan terlahir kembali atu terlepas dari cengkeraman gereja. Karena ketika itu gereja mengklaim sebagai institusi resmi wakil tuhan di muka bumi melakukan hegemoni di masyarakat.
Dalam bidang seni, sebelumnya telah banyak seniman Barat yang terkonsentrasi pada bidang keagamaan hampir secara eksklusif , dimana seni dan arsitekturnya banyak dikhususkan untuk Gereja. Dalam bidang satra, awalnya menulis dalam bahasa Latin hanya ditujukan untuk teologi, dan pemerintah, namun pada abad pertengahan penulisan sastra lebih menjurus pada hal-hal duniawi.
 Bidang Pertanian
Perbaikan sistem pertanian setelah 800 M menjadikan pemilik tanah menjadi bebas secara virtual. Ketegangan antara petani dan bangsawan muncul, namun secara keseluruhan, bagaimanapun, kondisi petani meningkatkan produktivitas pertanian telah melampaui dunia kuno.

 Pertumbuhan Perdagangan dan Perbankan
Produksi pertanian yang lebih besar menyebabkan urbanisasi dan meningkatnya kegiatan komersial. Perbankan muncul di Italia, Jerman selatan, Low Countries, Perancis, dan Britania. Sebagai pedagang, Italia mulai menghubungkan Eropa dengan bagian-bagian lain dari Eurasia melalui rute perdagangan Mediterania. Perkembangan perbankan membantu menciptakan lingkungan bisnis yang melahirkan kapitalisme dan selanjutnya, kapitalisme yang ditemukan di hampir setiap negara barat, mendukung ideologi yang sangat individualistik.

3. Era Modern
Dalam Peradaban Barat era modern, agama menjadi kurang penting. Agama sementara itu telah menyusut jauh di Eropa Barat, dimana banyak agnostik atau ateis . Hampir setengah dari populasi dari Britania Raya (44-54%), Jerman (41-49%), Perancis (43-54%) dan Belanda (39-44%) adalah non-teis. sebagaimana juga terjadi di sebagian besar Amerika Latin. Pada zaman ini juga mulai berkembang konsep pemisahan Gereja dengan negara , sehingga muncul doktrin pemisahan kekuasaan, yang membuat demokrasi Barat modern yang berbeda dari demokrasi secara umum. Biasanya masyarakat barat menggunakan sistem pemerintahan demokrasi dengan multipartai atau presidensil.

Produk Peradaban barat
Salah saru fitur kebudayaan Barat adalah fokus pada ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemampuan untuk menghasilkan proses inovasi material. Produk-produk peradaban barat antara lain:
 Barat pertama kali mengembangkan penggunaan uap untuk tenaga listrik. Begitu juga dengan motor listrik , dinamo , transformator , lampu listrik, nuklir, transistor , rangkaian terpadu , chip memori, dan komputer.
 Alat komunikasi: telegraf, telepon, radio, televisi, komunikasi dan navigasi satelit, ponsel , dan internet semua ditemukan oleh Barat.
 Peralatan kantor: pensil, pena ballpoint, CRT , LCD , LED , foto, mesin fotokopi , laser printer , ink jet printer dan layar plasma juga ditemukan di Barat.
 Alat Optik: . Kacamata, teleskop, mikroskop, dan mikroskop elektron , semua jenis kromatografi , protein dan sekuensing DNA , komputerisasi tomografi , NMR , x-sinar , dan cahaya, ultraviolet dan spektroskopi inframerah.
 Material bangunan: beton , aluminium, gelas kaca, karet sintetis, berlian sintetis dan plastik polyethylene, polypropylene, PVC, polistiren dan lain-lain.
 Kedokteran: vaksinasi, anestesi, antibiotik, metode mencegah penyakit Rh, pengobatan diabetes ,teori kuman penyakit, stetoskop, elektrokardiograf, endoskopi, vitamin , kontrasepsi hormonal , hormon , insulin, dan lain-lain.
 Matematika: kalkulus, statistika, logika, vektor, tensor dan analisis kompleks.
 Biologi: evolusi, kromosom, DNA, genetika, metode biologi molekular dan lain-lain.
 Fisika: ilmu mekanika dan mekanika kuantum, relativitas, termodinamika , mekanika statistik, elektromagnetisme termasuk Hukum Coulomb (1785), baterai pertama(1800), kesatuan listrik dan magnet (1820), Biot-Savart hukum (1820), Ohm’s Law (1827), persamaan Maxwell (1871), atom , inti , elektron , neutron dan proton semua diresmikan oleh Barat.
 Bidang Ekonomi: pembukuan entri ganda , itu perseroan terbatas , asuransi jiwa , kartu kredit dan lain-lain.
 Eksplorasi dan petualangan dunia: Ekspedisi pertama mengelilingi bumi (1522), pertama yang menginjakkan kaki di Kutub Selatan (1911), dan manusia pertama yang mendarat di bulan (1969). Pendaratan robot di Mars (2004), asteroid (2.001), eksplorasi voyager planet-planet luar ( Uranus pada tahun 1986 dan Neptunus pada tahun 1989), dan lain-lain.
B. PERADABAN ISLAM
Menurut Nourouzzaman Shiddiqie, periodesasi sejarah peradaban islam terbagi atas tiga periode, yaitu;
1. Periode Klasik (600-1258). Periode ini dimilai sejak kelahiran Nabi Muhammad Saw sampai didudukinya Baghdad oleh Hulagu Khan.
2. Periode Pertengahan (Dari Jatuhnya Baghdad sampai Penghujung abad ke 17)
3. Periode modern (mulai abad ke 18 sampai sekarang).
Sedangkan menurut Ahmad al Usairy menyebutka bahwa periodesasi sejarah perdaban islam dibagi dalam periode-periode sebagai berikut:
1. Periode sejarah klasik (masa Nabi Adam –sebelum diutusnya Nabi Muhammad)
2. Periode Sejarah Rasulullah (570-632M), yaitu masa berdirinya negara islam pertama.
3. Periode sejarah Khulafaur Rasyidin (632-661 M). Dalam periode ini terjadi penaklukan-penaklukan di Persia, Syiria, Mesir dan lain-lain. Pada periode ini juga terjadi proses pengumpulan dan pembukuan al Qur’an.
4. Periode pemerintahan Bani Umayah (661-749M), pada periode ini islam mengalami perluasan yang signifikan
5. Periode Pemerintahan Bani Abassiah(749-1258M), pada periode ini muncul beberapa pemerintahan dan kerajaan independen dan juga banyak bermunculan cenkiawan-cendekiawan muslim.
6. Perode pemerintahan Mamluk (1250-1517M)
7. Periode pemerintahan Usmani (1517-1923M), islam berhasil melakukan ekspansi ke kawasan eropa.
8. Periode dunia islam Kontemporer (1922-sekarang).
 Pengaruh Peradaban Islam Terhadap Dunia
1) Pengaruh dalam bidang Akidah dan Agama
Islam menyatakan kebebasan manusia dalam menyembah dan berhubungan dengan Allah dan dapat memahami dan menjalankan syariat tanpa perantaraan tokoh-tokoh agama. Ketika itu banyak bangsa-bangsa yang terbelenggu dalam kekuasaan tokoh agama. Pada abad VII di kalangan bangsa barat muncul orang-orang yang menolak adanya perantara antara Allah dengan hambaNya serta ,menyerukan kebebasan dalam memahami kitab suci, lepas dari kekuasaan dan pengawasan tokoh-tokoh agama mereka.
2) Pengaruh dalam bidang IPTEK
• Kedokteran
Kitab Ibnu Sina (Avicenna), al-Qanun (abad-12) & Al-Hawi (ar-Razi) menjadi sumber pengetahuan kedokteran di Barat sampai abad-16.
Apotik & ilmu Kedokteran, Kimia & Botani Islam sblm abad-15 sudah sangat maju dibandingkan Barat, ilmuwan Islam telah menemukan 2000 jenis tanaman Thriflorida untuk obat-obatan.
• Filsafat
Dalam bidang filsafat, islam memilki Bapak filsafat yaitu Ibnu Rusyd (Averroes) yang pemikiran filsafatnya pernah mempengaruhi alam pemikiran Eropa.
• Ilmu Logika
Abu Nashr Muhammad al Farabi adalah bapak logika islam. Dia memperkenalkan pembuktian silogisme dengan contoh-contoh dan memperkenalkan sejumlah cara dengan metode deduktif.
• Ilmu Aljabar dan Logaritma
Muhammad bin Musa Al Khawarizmi adalah bapak aljabar. Dia juga merupakan penemu angka nol dan penemu logaritma.
• Astronomi
Selain sebagai Bapak Aljabar dan Logaritma, Al Khawarizmi juga pernah membuat tabel perhitungan astronomi yang dapat digunakan untuk mengukur jarak dan kedalaman bumi sehingga bumi menjadi terbuka untuk diteliti. Pada tahun 1226 M, Adelard dari bats menterjemahkan teori dan tabelnya ke dalam bahsa latin.
Gherardo & Cremona, 2 orang ahli astronomi Italia menerjemahkan buku ilmu astronomi dari kitab as-Syarh karangan Jabir ibnu Hayyan.

• Sastra
o Opera “Peringatan akan akibat” karangan Shakespeare, diilhami dari kisah Alfu lailah wa lailah dari masa keemasan Islam.
o Cerpen karangan sastrawan Perancis Lasange banyak mengambil inspirasi dari kitah Natan al-Hakim.
o Sajak Divina Commedia karangan Dante Alghieri mengambil dari kitab Risalatul- Ghufran (karangan al-Ma’ariy) & Washful Jannah (karangan Ibnu Arabi).
o Cerita Gulliver (karangan Schwift) diilhami oleh Alfu lailah wa lailah.
o Cerita Robinson Crusoe (karangan Defoe) diilhami dari kitab ar-Risalah (karangan Hayy bin Yaqzhan yang dikenal dengan gelar Ibnu Thufail)
• Bahasa
o Dalam aspek bahasa, banyak kata-kata dalam bahasa Barat yang mengambil dari bahasa Arab, seperti; Cotton (dari Quthn), Syrup (dari Syarab), Lemon (dari Laymun), bahkan nama-nama ilmuwan Islam seperti : Avecina (dari Ibnu Sina), Averoes (dari Ibnu Rusyd), Albategnius (dari Al-Baththani), Ibn Yunis (dari Ibnu Yunus), dan lain-lain.
• Sejarah
Ibnu khaldun dikenal sebagai bapak Sejarah. Sumbangan Ibnu khaldun tentang ilmu sejarah adalah teori perkembangan peradaban.
• Botani dan Zoologi
Raja Friederich-II dari Perancis meminta putra-putra Ibnu Rusyd (menurut ejaan Barat dibaca : Averoes) untuk tinggal di istananya mengajarinya ilmu Botani & Zoologi.
Paus Gerbert (bergelar Sylvestre-II) mengajar ilmu-ilmu alam pada tahun 1552-1562 yang kesemuanya dipelajarinya di Universitas Islam Andalusia di Spanyol.
• Hukum
Menurut sejarawan & orientalis Perancis Sedillot, bahwa UU Sipil Perancis pada masa Napoleon Bonaparte diilhami dari kitab al-Khalil (salah satu kitab Fiqh Maliki).

C. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN PERADABAN ISLAM dan BARAT
 Kelebihan dan Kelemahan Peradaban Barat
1. Kelebihan Peradaban Barat
Kelebihan Peradaban barat yang menonjol sebagaimana ditulis oleh Edwin A. Locke, Ph.D
a. Orang-orang Yunani adalah orang-orang yang pertama kali mengidentifikasi secara filosofis bahwa pengetahuan diperoleh melalui akal dan logika sebagai lawan dari mistisisme (iman, wahyu, dogma). Butuh waktu dua milenium, termasuk Abad Kegelapan dan Renaissance, untuk mengimplikasikasikan secara penuh pemikiran Yunani sehingga Barat mencapai puncaknya Barat pada era pencerahan abad ke-18.

b. Pengakuan hak individu.
Sebuah prestasi yang sangat diperlukan menuju Pencerahan adalah pengakuan dari konsep hak-hak individu. John Locke menunjukkan bahwa individu tidak ada untuk melayani pemerintah, melainkan bahwa pemerintah ada untuk melindungi individu. Individu, kata Locke, memiliki hak mutlak untuk hidup, kebebasan, dan mengejar kebahagiaan sendiri.
c. Sains dan Teknologi
Hingga sekarang dapat dilihat kemajuan Sains dan teknologi barat yang tidaka ada hentinya. Sebagian besar barang-barang yang kita miliki sekarang ini adalah produk dari peradaban barat. Orang-orang barata mampu menemukan formula-formula baru, membuat inovasi baru sehingga mampu menguasai pasar ekonomi.
2. Kelemahan Peradaban Barat
• Perlakuan terhadap binatang
Sejarah telah mencatat kisah-kisah paling aneh pada abad pertengahan hingga abad ke 19 dimana pada waktu itu binatang diadili seperti halnya manusia. Binatang juga dikenai hukuman penjara, pengusiran, dan bahkan hukuman mati. Mereka menghukum binatang tidak semata-mata untuk hiburan, tetapi itu memang sungguh-sungguh untuk mewujudkan keadilan. Di kalangan umat eropa pada abad pertangahan, Perancis adalah Eropa kristen yang pertama kali memulai prinsip pertanggungjawaban dan pemidanaan terrhadap binatang (abad 13). Negara Sardinia memulainya pada abad !4, Belgia pada akhir abad 15, Belanda, Jerman, Italia dan Swedia pada abad 16. Di sebagian abngsa Slaves (Eropa timur dan tengah), prinsipi itu masih terus dilaksanakan sampai abad ke 19.
Berikut ini adalah beberapa kasus tentang pengadilan terhadap binatang.
a. Terjadinya pengadilan terhadap “Tikus” di pengadilan Autunne di Perancis abad- 15, karena tikus dianggap “bersalah” karena telah berkumpul di jalan-jalan dan mengganggu ketenangan.
b. Pengadilan terhadap “Ayam yang bertelur” di pengadilan Palle, Swiss tahun 1474.
c. Pengadilan & hukuman mati yang dijatuhkan terhadap “Kucing” abad-15 di Inggris, dikarenakan diduga telah membantu para “tukang Sihir” dalam melakukan kejahatannya.
d. Pada 1495 di perancis juga terjadi kasus aneh yaitu tuntutan yang diajukan oleh petani anggur terhadap ulat-ulat yang telah memakan anggurnya.
• Perlakuan tidak adil terhadap manusia
Pengadilan & pembunuhan besar-besaran kepada para ilmuwan seperti Nicholas Copernicus & Galileo Galilei karena mengemukakan teori heliosentris, sementara teori yang berlaku saat itu adalah geosentris (teori Claudius Ptolemeus). Tycho Brahe (seorang ilmuwan German) bahkan kehilangan sebelah telinganya karena berani menyatakan bahwa Venus memiliki fase-fase seperti bulan, dan lain-lain.

 Kelebihan dan Kelamahan Peradaban Islam
1. Kelebihan peradaban Islam
Dalam bukunya “Khazanah Peradaban Islam”, As Siba’i menyebutkan beberapa karakteristik unik peradaban islam. Mungkin keunikan-keunikan itu bisa menjadi nilai plus dalam perdaban islam. Karakteristik perdaban islam yang unik antara lain;
a. Peradaban islam berpijak pada asas wahdaniyah (Ketunggalan). Peradaban islam merupakan peradaban pertama yang menyerukan bahwaa Tuhan itu tunggal. Hal ini menyebabkan peradaban islam lemah dalah hal seni pahat dan patung meskipun menonjol dalam seni ukir dan bangunan.
b. Peradaban islam mempunyai kecenderungan dan tujuan kemanusiaan, cakrawala dan risalah kosmopolitan. Perdaban islam memiliki tokoh-tokoh jenius pembangun peradaban seperti Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’I, Ahmad, Al Khalil, Al Kindi, Al Ghazali, Al farabi, ibn Rusyd, ibn Sina, dan lain-lain.
c. Peradaban islam menjadikan prinsip moral dan akhlak dalam berbagai bidang kehidupan.
d. Peradaban islam berbicara dengan akal dan hati secara bersamaan. Peradaban islam adalah peradaban pertama yang tidak memisahkan antara agama dan negara.
e. Peradaban islam memiliki toleransi keagamaan yang tinggi. Terbukti khalifah-khlafah di masa lalu memperlakukan orang nasrani dan yahudi dengan penuh penghormatan bahkan mempercayakan mereka pekerjaan-pekerjaan besar dan jabatan penting.
Sebagai contoh khalifah Harun Ar Rasyid pernah memberiakn amanat pada Hanan bin Masuwaih, seorang yahudi, untuk mengawasi seluruh sekolah tanpa memandang asal usul agamnya namun hanya memandang kedudukannya terhadap ilmu pengetahuan.
2. Kelemahan Peradaban Islam
a. Peradaban islam maju pesat pada abad pertengahan ketika barat masih terpuruk, namun karena tidak mampu mempertahankan pada masa sekarang peradaban islam telah tertinggal dari peradaban barat sehingga saat ini semua aspek kehidupan dikuasai oleh Barat. Dari segi akhlak pun juga terjadi banyak penurunan. Memang, pada zaman ini manusia mengalami kemerosotan akhlak, tetapi sebagai umat islam yang notabene mengedepankan akhlak sebagai dasar seluruh bidang kehidupan sangatlah tidak pantas jika akhlaknya rusak.
b. Satu lagi kelemahan orang islam adalah tidak kritis terhadap diri sendiri, buku-buku karya orang barat yang sering diterjemahkan adalah buku-buku yang memandang positif terhadap islam. Jarang sekali diterjemahkan buku-buku seperti Ignaz Goldzier, Mac Donal yang sedikit memandang negatif tentang islam. Kecenderungan tidak kritis ini dalam istilah asing disebut irrational appeal, yakni kecenderungan tidak kritis terhadap diri sendiri di suatu sisi dan hegemoni dunia barat di sisi lain.
D. KOMPARASI ANTARA PERADABAN ISLAM DAN PERADABAN BARAT
Tabel Komparasi Antara Peradaban Islam dan Peradaban Barat
Pembeda Peradaban Islam Peradaban Barat
Hubungan Agama dan Negara Theokrasi
(tidak memisahkan antara negara dan agama)
Sekuler
(memisahkan antara agama dan negara)
Komparasi epistimologi Memadukan antara wahyu (agama) dengan rasio (akal) Hanya menggunakan akal
kemajuan Mengalami kemajuan pesat di abad pertengahan kemudian mengalami kemunduran Pada abad pertengahan masih tertinggal dengan peradaban islam namun pada era berikutnya maju pesat.
Perlakuan terhadap binatang Dalam syari’at islam terhadap binatang dilarang: menyakiti binatang, membiarkan binatang dalam keadaaan lapar, memaksa binatang bekerja di luar kemampuannya, menghibur diri dengan berburu binatang. Hukum pidana juga di terapkan kepada binatang. Binatang juga diadili dengan hukuman penjara, diasingkan bahkan dihukum mati sebagaimana narapidana manusia.

BAB III
PENUTUP

Peradaban islam dan peradaban barat masing-masing telah menyumbangkan perannya dalam kemajuan peradaban dunia. Kemajuan perdaban barat saat ini pun tidak lepas dari peranan peradaban islam karena sesungguhnya kemajuan barat adalah karena pada abad pertengahan barat banyak belajar dari orang-orang islam. Orang-orang barat banyak menterjemahkan buku-buku dari islam untuk dipelajari dan dikembangkan.
Meskipun banyak perbedaan yang bahkan bertolak belakang, peradaban barat dan peradaban islam masing-masing telah menyumbangkan tokoh-tokoh jeniusnya. Jika orang barat memilki Issac newton, James watt, Aristoteles, dan lain-lain maka peradaban islam juga memiliki Abu Hanifah, Malik, Asy Syafi’I, Ahmad, Al Khalil, Al Kindi, Al Ghazali, Al farabi, ibn Rusyd, ibn Sina, dan lain-lain.
Baik peradaban islam maupun peradaban barat masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Langkah terbaik yang sebaiknya dilakukan adalah memperbaiki kelemahan dan mempertahankan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh masing-masing peradaban.

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: AmzaH
As Siba’i, Mustafa Husni. 2002. Khazanah Peradaban Islam (Terj). Bandung: Pustaka Setia
Haque, M. Atiqul. 1998. Wajah Peradaban. Bandung: Zaman Wacana Mulia
Husaini, Adian,. 2005. Wajah peradaban barat dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler liberal. Jakarta: Gema Insani
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://en.wikipedia.org/wiki/Western_culture)
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Barat
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=en&u=http://www.danielpipes.org/comments/63525&ei=Jw0LTIGCPdLBrAfr9bjzDA&sa=X&oi=translate&ct=result&resnum=6&ved=0CDYQ7gEwBQ&prev=/search%3Fq%3Dcomparison%2Bbetween%2Bwest%2Bcivilizaton%2Band%2Bislamic%2Bcivilizatuon%26hl%3Did

Hello world!

Posted: March 9, 2011 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!