SEJARAH KODIFIKASI HADIS

Posted: March 9, 2011 in Uncategorized

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam islam kedudukan hadis sebagai sumber ajaran islam menempati posisi kedua setelah al- Qur’an. Bukan saja menjadi penguat dan penjelas al- Qur’an, tetapi juga dijadikan hukum baru yang tidak atau belum dijelaskan oleh al-Qur’an, bahkan ia juga berfungsi untuk menasakh al-Qur’an.
Hadis tidak seperti alqur’an yang yang sifatnya qath’iyyah al wurud (pasti kedatangannya), maka tidak diherankan keberadaannya menjadi sasaran oleh mereka yang tidak senang terhadap islam (misalnya Goldziher, 1850-1921) yang meragukan orisinalitas hadis. Alasannya adalah jarak semenjak wafatnya Nabi Saw dengan dengan masa upaya pentadwinan hadis sangat jauh, menurutnya sangat sulit untuk menjaga tingkat orisinalitas hadis tersebut. Selanjutnya dalam kalangan islam sendiri ditemukan kelompok di Mesia dan Iraq yang dikenal dengan nama inkarus sunnah yang tidak menjadikan hadis sebagai sumber ajaran islam. Hal ini membuat ilmu-ilmu hadis menampak titik urgensi dirinya dalam mempertahankan dan mempertanggungjawabkan otentitas hadis secara ilmiah. Sedangkan untuk dapat mengetahui secara kronologis perkembangan hadis mulai masa Nabi Saw sampai pertengahan abad VII H hingga sekarang, para ahli membaginya dalam beberapa periode perkembangan hadis.

BAB II
PEMBAHASAN
“SEJARAH KODIFIKASI HADIS”

A. Hadis Dalam Periode Pertama (masa Rasulullah).
Periode ini disebut “Ashr Al wahyi wa al Taqwin” ( masa turunnya wahyu dan pembentukan masyarakat islam. Umat islam pada masa ini dapat secara langsung memperoleh hadis dari Rasulullah, semua perkataan, perbuatan dan taqrir nabi menjadi referensi bagi para sahabat. Ada beberapa cara Rasulullah menyampaikan hadis kepada para sahabat, yaitu:
 Melalui para jama’ah melalui para jama’ah pada pusat pembinaan yang disebut majlis al- ilmi.
 Rasulullah Saw menyampaikan hadisnya melalui sahabat tertentu yang kemudian disampaikan kepada orang lain.
 Melalui pidato di tempat terbuka, seperti ketika ketika haji wada’ dan futuh Makkah.
Larangan Menulis Hadis
Pada awalnya Rasulullah melarang para sahabat menulis hadis secara resmi, sehingga para sahabat hanya mengandalkan hafalan. Beliau bersabda:

“Janganlah kau tulis apa saja dariku selain al Qur’an. barang sispa menulis dariku selain al Qur’an hendaknya dihapus.” (HR Muslim).
Menurut para ulama’, pelarangan penulisan hadis disebabkan oleh beberapa faktor:
a. Men-tadwin-kan segala ucapan, amalan, serta muamalah Nabi adalah suatu hal yang sukar, karena memerlukan adanya segolongan sahab at yang terus menerus harus menyertai Nabi untuk menulis segala sesuatu dari Nabi, dan orang yang bisa menulis pada masa itu masih sangat sedikit.
b. Dikhawatirkan akan bercampur dalam sebagian sabda Nabi dengan al Qur’an secara tidak sengaja.
Pembatalan Larangan menulis hadis
Di balik larangan Rasulullah tentang menulis hadis, ternyata ditemukan sejumlah sahabat yang menuliskan hadis secara diam-diam, diantaranya adalah Abdullah ibn Amr Al-Ash, Jabir bin Abdillah ibn Amr Al-Anshari, Abu Huraiorah Ad Dausi dan Abu Syah.
Abdullah ibn Amr Al-Ash memiliki catatan hadis yang menurut pengakuannya dibenarkan oleh rasulullah Saw. Menurut suatu riwayat diceritakan bahwa orang-orang Quraisy mengkritik sikap Abdullah yang selalu mnulis apa saja yang datang dari Rasul. Mereka berkata: “ Engkau tuliskan apa saja yan g datang dari Rasul, padahal Rasul itu manusia yang bisa saja bicara dalam keadaaan marah.” Kritikan ini disampaikan kepada Rasulullah Saw dan beliau menjawabnya dengan mengatakan:
“ Tulislah! Demi Dzat Yang menguasai jiwaku, tidak ada yang keluar dari padaku melainkan yang haq (benar)”. (HR. Bukhari)
B. Hadits Dalam Periode Kedua (Masa Khulafa’ Rasyidin)
Periode ini disebut zaman at Tatsabut wa al Iqlal min al Riwayat ( masa pengokohan dan penyederhanaan riwayat). Pada masa ini para sahabat sangat berhati-hati dalam meriwayatkan dan menerima hadis karena menurut mereka hadis merupakan sumber ajaran islam yang harus terjaga dari kekeliruan sebagaimana al-Qur’an. Diharuskan menghadirkan saksi untuk meriwayatkan suatu hadis.
Cara para sahabat meriwayatkan hadis:
• Periwayatan lafdzi, yaitu periwayatan hadis yang lafadznya persis seperti yang disabdakan nabi.
• Periawayatan maknawi, yaitupara sahabat meriwayatkan makananya saja karena tidak hafal lafaz asli dari Nabi.
C. Hadits Dalam Periode Ketiga (Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in Besar)
Periode ini disebut “Ashr al Intisyar al Riwayah ila al Amshar” (masa berkembang dan meluasnya periwayatan hadis). Sesudah masa Usman dan Ali, timbullah usaha yang lebih serius untuk mencari dan menghafal hadis serta menyebarluaskannya kepada masyarakat luas. Pada masa ini wilayah islam sudaj semakin meluas ke negeri Syam, Iraq, Mesir, Samarkant, hingga Spanyol. Hal ini bersamaan dengan berangkatnya para sahabat ke daerah-daerah tersebut dalam rangka memangku jabatan pemerintahan dan penyebaran ilmu hadis.
Karena meningkatnya periwayatan hadis, muncullah bendaharawan dan lembaga-lembaga hadis di berbagai daerah. Di antara bendaharawan hadis yang banyak menerima, menghafal dan meriwayatkan hadis adalah:
a. Abu Hurairah, meriwayatkan 5374 hadis.
b. Abdullah ibnu Umar, meriwayatkan 2630 hadis.
c. Anas Ibnu Malik, meriwayatkan 2276 hadis.
d. Aisyah, meriwayatkan 2210 hadis.
e. Abdullah bin Abbas, meriwayatkan 1660 hadis.
f. Jabir ibnu Abdullah40, meriwayatkan 1 hadis.
g. Abu Sa’id al khudry, meriwayatkan 1170 hadis.
Pusat-pusat hadis:
a. Madinah
Tokoh-tokohnya adalah Abu Bakar, Umar, Ali, Abu Hurairah, Aisyah, Ibnu Umar, Abu Sa’id al Khudry dan Zaid bin Tsabit, serta para sahabat Tabi’in yang belajar kepada para sahabat di atas.
b. Makkah
Tokoh-tokoh hadisnya adalah Mu’adz dan Ibnu Abbas, dan para tabi’in yang belajar kepada mereka yaitu Mujahid, Ikrimah, Atha’ ibnuAbi Rabah, Abu Az Zubair Muhamad ibnu Muslim.
c. Kufah
Tokoh-tokohnya adalah Ali Abdullah bin Mas’ud, Sa’ad bin al Waqqash, Sa’id bin Zaid Khabbab ibnu al Arat, Salman al-Farisi, Hudzaifah ibnu Yaman, Ammar ibnu Yasir, Abu Musa, Al BAraq, Al Mughirah, Al nu’man, dan lain-lain dengan pemimpin besar hadis di kufah yaitu Abdullah ibnu Mas’ud. Banyak ulama hadis yang belajar kepadanya.
d. Basrah
Tokoh-tokoh hadisnya adalah Anas Ibnu Malik, Utbah, Imran ibn Husain, Abu Barzah dan lain-lain serta para tabi’in yang belajar kepada mereka seperti Abul aliyah, Rafi’ ibn Mihram al Riyahy, Al Hasan Al Bishry, Muhammad ibn Sirrin, Abu Sya’tsa’, Jabir ibn Zaid, Qatadah, Mutarraf ibn Abdillah ibn Syikhir dan Abu Bardah ibn Abu Musa.
e. Syam
Tokoh hadis dari sahabat di Syam ini adalah Mu’adz ibn Jabal, Ubadah ibn Shamit dan Abu Darda, dan pada beliau-beliau itu banyak tabi’in belajar di antaranya Abu idris al Khaulany, Qabishah ibn Dzuaib, Makhul, Raja’ ibn Haiwah.
f. Mesir
Di antara sahabat yang mengembangkan hadis di Mesir adalah Abdullah ibn Amr, Uqbah ibn Amr, Kharijah ibn Hudzaifah, Abdullah ibn Sa’ad, Mahwiyah ibn Juz, Abdullah ibn Harits, Abu Bashrah, Abu Sa’ad al Khair, Mu’adz ibn Anas al Juhary. Tabi’in yang belajar kepada mereka adalah Abu al Khair Martsad al Yaziny dan Yazid ibn abi Habib.
Mulai timbul pemalsuan Hadis
Pada periode ini mulai terdapat pemalsuan hadis. Hal ini dikarenakan fitnah di akhir Khalifah Usman dimana umat islam pecah menjadi 3 bagian yaitu golongan syiah, khawarij, dan golongan jumhur. Masing-masing golongan berusaha membuat hadis palsu untuk mendukung paham yang dianutnya.
D. Hadis pada Periode Keempat (Masa pengumpulan dan Pembukuan Hadis abad II Hijriah)
Pada abad pertama hijriah yaitu pada zaman Rasulullah Saw, Khulafa’ur Rasyidin, sebagian besar dinasti Amawiyah hingga akhir abad pertama Hijriah hadis hadis berpindah dari mulut ke mulut dan para perawi meriwayatkan berdasarkan kekuatan hafalannya. Ketika kekhalifahan dipegang oleh Umar ibn Abdul Aziz (99H), mulailah dilakukan usaha tadwin hadis. Alasan mengapa Umar ibn Abdul Aziz memutuskan hal itu adalah beliau khawatir terhadap hilangnya hadis-hadis dengan gugurnya para ulama hadis di medan perang dan khawatir akan tercampurnya hadis-hadis shahih dengan hadis palsu. Di pihak lain bahwa dengan semakin meluasnya daerah kekuasaan islam dan berbedanya kemampuan para tabi’in satu sama lain, maka sangat jelas diperlukan adanya usaha kodifikasi ini.
Untuk mewujudkan maksud mulia itu, pada tahun 100 H khalifah meminta gubernur madinah Abu Bakar ibn Muhammad ibn Amr Ibn Hazmin supaya membukukan hadis rasul kepada penghafal wanita terkenal Amrah binti Abd ar Rahman ibn Sa’ad ibn Zuharah ibn Ades dan hadis-hadis yang ada pada al Qosim ibn Muhammad ibn Abu Bakr ash Shiddiq, seoarang fuqaha tujuh madinah. Di samping itu, Umar mengirimkan surat-surat kepada gubernur-gubernur yang ada di bawah kekuasaannya untuk membukukan hadis yang ada pada ulama yang tinggal di wilayah mereka masing-masing.
Adapun para pengumpul pertama hadis yang tercatat dalam sejarah adalah:
a. Di kota Makkah, Ibnu Juraij (80H/669M-150H/767M)
b. Di kota Madinah, Ibnu Ishaq (…H/151M-…H/768M), Ibnu Abi Dzi’bin dan Malik ibn Anas (93H/703M-179H/798M)
c. Di kota Bashrah, Ar-Rabi’ ibn Shabih (…H/…M-160 H/777M),Hammad ibn Salamah (176H) dan Said ibn Abi Arubah (156H/773M)
d. Di Kufah, Sufyan ats-Tsaury(161H)
e. Di Syam, Al-Auza’y(156H)
f. Di Washith, Husyaim al-Wasyithy (104H/772M-188H/804M)
g. Di Yaman, Ma’mar al-Azdy (95H/753M-153H/770M)
h. Di Rey, Jarir adh-Dhabby (110H/728M-188H/804M)
i. Di Khurasan, Ibnu al-Mubarak (118H/735M-181H/797M)
j. Di Mesir, Al-Laits ibn Sa’ad(175H).
Kitab-kitab hadits yang terkenal dalam abad ke dua Hijrah dalam kalangan ahli hadist ialah:
a. Al Muwatha’, susunan imam Malik (95H-179H)
b. Al MAghazi wa al Siyar, susunan Muhammad ibn Ishaq (150H)
c. Al-Jami’, susunan Abd ar Razzaq ash Shan’any (211H)
d. Al Mushannaf, susunan Syu’bah ibn Hallaj (160H)
e. Al Mushannaf, susunan Sufyan ibn Uyainah (198H)
f. Al Mushannaf, susunan al laits ibn sa’ad (175H)
g. Al Mushannaf, susunan al Auza’y (150H)
h. Al Mushannaf, susunan Al Humaidi(219H)
i. Al Maghazi an Nabawiyah, susunan Muhammad ibn WAqid al Aslami (130H-207H)
j. Al Musnad, susunan Abu Hanifah (150H)
k. Al Musnad, susunan Zaid ibn Ali
l. Al Musnad, susunan susunan Imam Asy Syafi’i (204H)
m. Mukhtalif al Hadis, susunan imam Syafi’i.
E. Hadis Pada Periode Kelima (Masa Pentashhihan dan Penyusunan Kaidah-kaidahnya)
Para ahli hadis padaa abad II H tidak memisahkan hadis dari fatwa-fatwa sahabat dan tabi’in, namun pada abad ketiga para ahli hadis memisahkan hadis dari fatwa-fatwa itu. Mereka hanya membukukan hadis-hadis saja. Pada mulanya ulama hanya mengumpulkan hadis yang terdapat di kota mereka masing-masing, hanya sebagaian kecil saja yang pergi ke kota lain untuk kepentingan hadis. Keadaan ini dirubah oleh Bukhari dimana beliau selama 16 tahun menjelajah untuk menyiapkan kitab shahihnya. Pada mulanya para ulama menerima menuliskan hadis dari para perawi dengan tidak menetapkan syarat dan tidak memperhatikan shahih tidaknya. Namub setelah terjadinya pemalsuan hadis dan adanya upay dari orang-orang zindiq untuk mengacaukan hadis, para ulama pun melakukan hal-hal berikut:
1. Membahas keadaaan rawi-rawi dari berbagai segi, baik dari segi keadilan, tempat kediaman, masa, dan lain-lain.
2. Memisahkan hadis-hadis yang shahih dari hadis yang dhaif, yakni dengan mentashhihkan hadis. Dasar-dasar pentashhihannya adalah:
 Pengetahuan yang luas tentang tarikh rijal al hadis (sejarah perawi hadis).
 Perbandingan antara hadis di suatu kota dan di kota lainnya dan juga pengetahuan yang luas tentang mazhab yang dianut oleh perawi-perawi itu, apakah dia seorang khawarij, Mu’tazilah, syi’ah atau yang lainnya.
Langkah-langkah yang diambil untuk memelihara hadis:
 Mengisnadkan hadis
 Memeriksa benar dan tidaknya hadis yang diterima
 Mengkritik perawi dan menerangkan keadaan-keadaan mereka, tentang kebenaran dan kedustaannya. Membuat kaidah umum untuk membedakan derajat-derajat hadis.
 Menetapkan kriteria-kriteria hadis maudhu’.
Tokoh-tokoh Hadis yang lahir dalam masa ini adalah Ali ibn al-Madiny, Abu Hatim ar-Razy, Muhammad ibn Jarir ath-Thabary, Muhammad ibn Sa’ad, Ishaq ibn Rahawaih, Ahmad, Al-Bukhary, Muslim, An-nasa’y, Abu Daud, At-Tirmidzy, Ibnu Majah, Ibnu Qutaibah, Ad-Dainury.
Kitab-kitab sunnah yang tersusun dalam abad yang ketiga antara lain:
1. Al-Musnad, susunan Musa Ibn’Abdillah Al-‘Abasy
2. Al-Musnad, susunan Musaddad ibn Musarhad
3. Al-Musnad, susunan Asad Ibn Musa
4. Al-Musnad, susunan Abu Daud Ath Thayalisy
5. Al-Musnad, susunan Nu’aim ibn Hammad
6. Al-Musnad, susunan Abu Ya’la Al-Maushuly
7. Al-Musnad, susunan Al-Humaidy
8. Al-Musnad, susunan ‘Ali Al-Madaidi
9. Al-Musnad, susunan ‘Abid Ibn Humaid (249H)
10. Al- Musnadu Al-Mu’allal, susunan Al-Bazzar
11. Al-Musnad, susunan Baqiy Ibn Makhlad (201-296H
12. Al-Musnad, susunan Ibnu Rahawaih (237H)
13. Al-Musnad, susunan Ahmad Ibn Ahmad
14. Al-Musnad, susunan Muhammad Ibn Nashr Al-Marwazy
15. Al-Musnad, susunan Abu Bakr ibn Abi Syaibah (235H)
16. Al-Musnad, susunan Abu Al-Qasim Al-Baghdawy (214H)
17. Al-Musnad, susunan ‘Utsman ibn Muhammad Al-Masarkhasy
18. Al-Musnad, susunan Ad-Darimi
19. Al-Musnad, susunan Sa’id Ibn Mansur
20. Al-Musnad, susunan Sa’id Ibn Mansur (227H)
21. Tahdzibu Al-Atsarm, susunan Al-Imam ibn Jarir
22. Al-Jami’u Ash-Shahih, susunan Bukhari
23. Al-Jami’u Ash-Shahih, susunan Muslim
24. As-Sunan, susunan An-Nasa’i
25. As-Sunan, susunan Abu Dawud
26. As-Sunan, susunan At-Tirmidzi
27. As-Sunan, Susunan Ibnu Majah
28. As-Sunan, susunan Ibnu Al-Jarud
29. Ath-Thabaqat, susunan Ibnu Sa’ad
F. Hadis Pada Periode keenam (dari awal abad IV H – 656 H)
Ulama-ulama hadis yang muncul pada abad II dan III H digelari mutaqaddimin. Mereka mengumpulkan hadis dengan usaha dan pemeriksaan sendiri dengan menemui para penghafl hadis yang tersebar di seluruh pelosok negara Arab, Persia dan lain-lain. Sedangkan ulama-ulama hadis yang muncul pada abad IV H dan seterusnya diberi gelar Muta’akhkhirin. Kebanyakan hadis yang mereka kumpulkan adalah petikan atau nukilan dari kitab-kitab Mutaqddimin. Pada periode ini muncul kitab shahih yang tidak terdapat dalam kitab shahih abad III H diantaranya adalah ash Shahih susunan ibn Huzaimah, At taqsim wa al Anwa’ susunan ibn Hibban, Al Mustadrak susunan Al hakim, Ash Shahih susunan Abu Awanah, Al Muntaqa susunan ibn Jarud dan Al mukhtarah susunan Muhammad ibn Abd al wahid al Maqdisy.
Di antara usaha-usaha yang dilakukan oleh ulama hadis pada abad ini adalah:
1. Mengumpulkan hadis Bukhari/ Muslim dalam sebuah kitab.
2. Mengumpulkan hadis-hadis dalam kitab enam dengan urutan sebagai berikut:
a. Al Jami’ Al Shahih susunan Imam Bukhari
b. Al Jami’ Al Shahih susunan Imam Muslim
c. Al Sunan susunan Abu daud
d. Al Sunan susunan al Tirmidzi
e. Al Sunan susunan al Nasa’i
f. Al Sunan susunan ibn Majah.
3. Mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat dalam berbagai kitab, diantaranya adalah Mashabih As Sunnah oleh Imam husain ibn Mas’ud al Baghawi (516H), Jami’ul Masanid wal Alqab oleh Abdurrahman ibn Ali al jauzy (597 H), Bahrul Asanid al Hafidh Al Hasan ibn Ahmad al Samarqandi (491H).
4. Mengumpulkan hadis-hadis hukum dan menyusun kitab-kitab Athraf.
Pada periode ini muncul usaha-usaha istikhraj dan istidrak. Istikhraj adalah mengambil suatu hadis dari Bukhari dan muslim misalnya, lalu meriwayatkan dengan sanad sendiri. Contoh kitabnya adalah Mustakhraj shahih Al Bukhari oleh hafidh al Jurjany, Mustakhraj shahih Muslim oleh Al hafidh Abu Awanah. Sedangkan istidrak yaitu mengumpulkan hadis-hadis yang memiliki syarat-syarat Bukhari dan Muslim atau salah satunya yang kebetulan tidak diriwayatkan atau dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim. Contohnya kitab Al mustadrak oleh Abu Dzar al Harawy.

G. Hadis dalam Periode Ketujuh (656H- sekarang)
Periode ini adalah masa sesudah meninggalnya Khalifah Abassiah ke XVII Al Mu’tasim (w. 656) sampai sekarang. Periode ini dinamakan Ahdu as Sarhi wa al jami’ wa At takhriji wa Al Bahtsi (masa pensyarahan, penghimpunan dan pentakhrijan dan pembahasan). Periode ini dinamakan Ahdu al Sarhi wa al Jami’ wa Al Takhriji wa Bahtsi, yaitu masa pensyarahan, penghimpunan, pentahrijan dan pembahasan.
Pada periode ini disusun kitab-kitab Zawa’id, yaitu usaha mengumpulkan hadis yang terdapat dalam kitab sebelumnya ke dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya kitab zawa’id susunan ibn Majah, kitab Zawa’id AS Sunan Al kubra susunan Al Bushiry dan lain-lain. Di samping itu para ulama hadis juga mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat dalam beberapa kitab ke dalam sebuah kitab tertentu di antara adalah kitab Jami’ al Masanid wa As Sunan Al hadi li aqwani sanan, susunan al Hafidz Ibn Katsir dan jami’ul Jawami susunan Al hafidz Al Suyuthi (911H).
Banyak kitab dalam berbagai ilmu yang mengandung hadis-hadis yang tidak disebut perawinya dan pentahrijannya. Sebagian ulama pada masa ini berusaha menerangkan tempat-tempat pengambilan hadis-hadis itu dan nilai-nilainya dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya Takhrij hadis Tafsir al Kasyasyaf oleh ibn hajar al Asqalani, dan lain-lain.
Sebagaimana periode ke enam, periode ke tujuhini juga muncul ulama-ulama hadis yang menyusun kitab-kitab athraf, di antaranya Ithaf al Maharah bi athraf al asyrah oleh Ibn hajar Al Asqalani, Athraf Al Musnad Al mu’tali bi Athraf Al Musnad Al hanbali oleh ibn hajar, dan lain-lain.
Tokoh-tokoh hadis yang terkenal pada masa ini adalah: (1) Adz- Dzahaby (748H), (2) Ibnu Sayyidinnas (734H), (3) Ibnu Daqiq Al-‘Ied, (4) Muglatai (862H), (5) Al-Asqalainy (852H), (6) Ad-Dimyty (705H), (7) Al-‘Ainy (855H), (8) As-Suyuthi (911H), (9) Az-Zarkasy (794H), (10) Al-Mizzy (742H), (11) Al-‘Alay (761H), (12) Ibnu Katsir (774H), (13) Az-Zaily (762H), (14) Inu Rajab (795H), (15) Ibnu Mulaqqin (804H), (16) Al-Bulqiny (805H), (17) Al-‘Iraqy (w.806H), (18) Al-Haitsamy (807H), dan (19) Abu Zurah (826 H).

BAB III
KESIMPULAN

Dalam proses kodifikasinya, sejak zaman Nabi saw sampai sekarang, para ulama hadis membagi sejarah hadis dalam tujuh periode, yaitu:
1. Periode pertama (masa Rasulullah).
2. Periode kedua (masa Khulafa’ Rasyidin- masa membatasi riwayat)
3. Periode ketiga (masa sahabat kecil dan tabi’in besar)
4. Periode keempat (masa pengumpulan dan pembukuan hadis)
5. Periode kelima (masa pentashhihan dan penyusunan kaidah-kaidahnya)
6. Periode keenam (dari awal abad IV- 656H)
7. Peride ketujuh ( 656H- sekarang)

BIBLIOGRAFI

Al- Maliki, Muhammad Alawi. Terj. Adnan Qohar.2009. Ilmu Ushul
Hadis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Ash Shiddieqi, Muhammad Hasbi. 2009. Sejarah & Pengantar Ilmu
Hadis. Semarang Pustaka Rizki
Rachman, Fachtur. 1974. Ikhtisar Mushthalahul Hadits. Bandung :
Al-Ma’arif
Shalih, Al-Shubhi. 1977. ‘Ulum al Hadits wa Mushthalahuhu. Beirut:
Dar Al- Ulum Al- Malayin
Solahudin, M. Agus dan Agus Suyadi. 2009. Ulumul Hadis. Bandung
Pustaka Setia
Suparta, Munzier. 2008. Ilmu Hadis. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Usmani, Justice Muhammad Taqi. 1784. The Authority of Sunnah. New Delhi:
Kitab Bhavan
Zein, Muhammad Ma’shum. 2008. Ulumul Hadis dan Musthalah Hadis.
Jombang: Darul Hikmah

About these ads
Comments
  1. feeda el-islam says:

    assalmualaikum,,,,,
    ana mau ikut ngopi,,,,
    jazakumullah khoir,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s